Bocah berbaju biru yang jadi fokus utama video ini terus menangis.
Sebuah rekaman tersebar luas di kalangan masyarakat.
Dalam rekaman itu terlihat seorang bocah laki-laki di atas kasur.
Selayaknya seorang bocah, ia sedang asik merangkak.
Namun sesuatu kemudian terjadi.
Hal inilah yang membuat anak laki-laki yang belum diketahui namanya itu jadi viral.
Beberapa akun Facebook mengunggah rekaman ini, salah satunya Facebook Inilah Aku.
Video tersebut bahkan sudah dilihat sebanyak lebih dari 14.000 kali.
Bukannya merasa gemas melihat bayi laki-laki itu, para netizen malah menahan amarah.
Sebab apa yang terjadi dengan bocah laki-laki itu tak disangka.
Baru saja ia membalikkan tubuhnya, tapi ada sebuah tangan yang langsung menyerangnya.
Tangan itu mendorong tubuhnya, lalu memukul bokongnya keras-keras!
"This is drama, honey? This is drama?" kata-kata itu terus ia ucapkan berulang-ulang.
Entah apa maksud kata-kata sosok tersebut.
Suara wanita itu terus mengucapkan pertanyaan yang sama dan menyiksa bocah itu lagi, tiada henti.
Sampai video habis, tangan tersebut tak berhenti menyiksanya.
Anak itu malah dibiarkan meraung kesakitan sambil menangis.
Kulitnya pun bertambah merah karena siksaan tersebut.
Video ini jadi viral dan ratusan netizen menyayangkan perbuatan wanita itu.
Ternyata, Kejadian tersebut berlokasi di Seminyak, Bali.
Terungkap kalau bayi tersebut disiksa oleh ibu kandungnya sendiri.
Dikutip dari Tribun Bali, Bayi berinisial J yang baru berusia 11 bulan ini dianiaya oleh ibu kandungnya berinisial MD.
Yayasan Metta Mama dan Maggha kemudian melaporkan kejadian ini ke Polda Bali, Jumat (28/7/2017).
Penganiayaan MD terhadap bayi JB diperkirakan terjadi pada 22 Maret 2017 bertempat di sebuah tempat kos-kosan di Seminyak, Kuta, Badung.
Video direkam sendiri oleh MD selanjutnya dikirim ke seseorang hingga akhirnya sampai ke Yayasan Metta Mama dan Maggha.
MD kini dikabarkan sedang mendapatkan pemeriksaan medis oleh seorang psikiater.
Sedang bayi JD dirawat oleh Yayasan Metta Mama dan Maggha di Jalan Gunung Lawu Nomor 30, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat.
Ketua Yayasan Metta Mama dan Maggha, Vivi Monata Adiguna, meminta kasus ini untuk ditindak tegas dengan melayangkan laporan polisi.
“Dalam hal ini Yayasan Metta Mama dan Maggha hanya sebagai tempat penitipan, agar ke depannya tidak terjadi kasus-kasus seperti ini,” ungkap Vivi di Mapolda Bali.
Vivi mengatakan alasan utama pihaknya melaporkan kasus ini lantaran adanya rencana bayi JD untuk dikembalikan ke ibu kandungnya. “Sedangkan jika kita lihat ibu bayi masih labil, rencana bayi akan diambil kemarin (Kamis, 27/7/2017) tapi dari Dinas Sosial Provinsi Bali menolak,” ujarnya.
Adapun ayah biologis dari bayi JD sudah menunjuk pengacara untuk melakukan pendampingan hukum.
MD tega menganiaya bayinya diduga karena mengalami stres.
Ia harus merawat bayi JD seorang diri dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup setelah ditinggal kekasihnya yang berasal dari Austria.
Informasi lain menyebutkan, perempuan asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu juga mengalami Bipolar Disorder.
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem.
Menurut sumber Tribun Bali, hubungan antara MD dengan bule Austria itu hanya sebatas pacaran.
Bayi JD adalah hasil hubungan di luar nikah.
sumber : tribun bogor